System Thinking

System thinking adalah suatu pendekatan atau cara berpikir yang mengutamakan konsep kesisteman (holistic). Segala sesuatunya dianggap sebagai kesatuan yang saling berhubungan dan/atau mempengaruhi satu sama lainnya.  Dengan pendekatan ini, maka seorang system thinker  cenderung akan berpikiran (bersikap) positif dan luas, efisien, serta kreatif hingga dapat mendeskripsikan suatu masalah beserta fenomena-fenomenanya dengan baik dan kemudian mampu mengembangkan solusi-solusinya.

Secara umum, sistem dapat diartikan sebagai sekumpulan komponen, elemen, atau unsur yang saling berkaitan sehingga dapat mempengaruhi (sesuai dengan fungsi masing-masing) satu sama lainnya dengan urutan / prosedur tertentu dalam mencapai suatu tujuan atau menghasilkan suatu output.

Dengan memperhatikan maknanya, maka suatu sistem akan memiliki :

  1. Komponen-komponen
  2. Lingkungan : entitas eksternal yang dinyatakan oleh batasan sistem itu sendiri
  3. Batasan : menyatakan yang mana sistem dan entitas eksternalnya
  4. Interface : media yang menghubungkan sistem dengan entitas eksternalnya
  5. Masukan : data dan perintah / kendali
  6. Keluaran : hasil pemrosesan yang berupa data / informasi
  7. Prosedur : yang menentukan relasi dan urutan kerja / peran komponen-komponennya
  8. Tujuan : hasil / sasaran yang ingin dicapai dengan beroperasinya sistem

 

Sistem, Model, dan Simulasi

Pada konteks eksperimen, kita tidak selalu dapat bekerja dengan objek yang sebenarnya untuk menghasilkan solusi yang  akurat. Membuat, membangun, menghancurkan, memusnahkan, dan melakukan suatu perubahan adalah contoh aktivitas yang sangat mahal, mempunyai risiko, berbahaya, atau sebagian tidak mungkin dilakukan. Jadi, tidak mudah bekerja dengan sistem nyata tanpa biaya besar, dan risiko keamanan, serta keselamatan. Oleh sebab itu, maka kita dapat membuat sebuah model, dengan menggunakan bahasa pemodelan, untuk menyajikan sistem yang sesungguhnya; tentu saja dengan beberapa penyederhanaan, pendekatan, atau keterbatasan tertentu.

Idealnya, setiap model merupakan bentuk representasi formal – yang oleh atau dengan bantuan bahasa/simbol/perangkat tertentu dari sistem nyatanya. Artinya model harus memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan sistemnya; kalaupun ada, penyimpangannya / perbedaannya sangat kecil (dianggap tidak signifikan).

Setelah dibuat model, maka dilanjutkan dengan proses simulasinya terhadap tiruan dari eksperimen, operasi, fungsi, aktivitas, perilaku sebagaimana terjadi di dunia nyata (sistem yang sebenarnya). Pembuatan model dan pekerjaan simulasinya sudah banyak melibatkan komponen perangkat keras dan perangkat lunak komputer sehingga muncul istilah simulasi komputer.

Sebelum diimplementasikan, suatu sistem atau model perlu dikembangkan dengan suatu metode / siklus sebagai berikut :

  1. Analisis kebutuhan
  2. Perancangan
  3. Pengembangan
  4. Pengujian
  5. Implementasi
  6. Pengoperasian
  7. Pemeliharaan
  8. Evaluasi

 

Konsep System Thinking

Berdasarkan pengertian dan definisi di atas beserta komponen-komponennya, maka konsep system thinking yaitu :

  1. Saling keterkaitan

System thinking memerlukan kemampuan untuk menggeser pola pikir; dari linier menjadi non-linier / sirkuler (memiliki loop / umpan balik).

  1. Sintesis

Sintesis merujuk pada kombinasi komponen dalam membentuk sesuatu yang baru dan saling terkoneksi secara keseluruhan.

  1. Kemunculan

Dari perspektif kesisteman, banyak hal besar yang muncul dari yang kecil; kemunculannya merupakan sinergi dari berbagai hal yang terkait.

  1. Umpan balik (loop)

Karena saling terkoneksi, pada sistemnya terdapat komponen umpan balik. Setelah memahami sistemnya, maka kita akan memiliki potensi untuk mengintervensikan umpan baliknya.

  1. Hubungan sebab akibat (kausalitas)

Sebab akibat adalah konsep yang umum. Dengan memahami umpan balik, maka kita akan mendapatkan perspektif sebab akibat; bagaimana suatu hal akan menghasilkan hal yang lain di dalam suatu sistem yang berkembang.

  1. Pemetaan sistem

Merupakan salah satu alat bantu pelaku system thinking. Untuk memetakan sistem, tersedia banyak cara; mulai dari pemetaan klaster analog hingga analisis umpan balik yang kompleks.

 

Seorang system thinker memakai kebiasaan berpikir untuk menyelesaikan masalahnya yaitu:

1. Mencari dan memahami gambaran besarnya

  1. Mengamati pola yang terdapat di sistemnya
  2. Mengenali struktur sistem dalam mempengaruhi (pola) perilakunya
  3. Mengidentifikasi relasi sebab dan akibat
  4. Membuat dan menguji asumsi
  5. Mencari kemungkinan konsekuensi yang tidak diinginkan tetapi bisa muncul
  6. Mencari titik-titik pengaruh (leverages) untuk bisa merubah (memodifikasi) sistemnya
  7. Menghindari kesimpulan yang terlalu dini

 

Kesimpulan

Sistem, pendekatan sistem dan/atau pemikiran kesisteman dapat membuat segala sesuatunya menjadi lebih sederhana dan terurai secara grafis / visual sehingga tampak jelas dan mudah untuk dibayangkan dan dipahami dan kemudian dikomunikasikan secara luas secara sistematis (dengan urutan dan tahapan yang mudah, cepat, dan tepat).

Oleh sebab itu, teori mengenai sistem, akhirnya, sering digunakan sebagai alat bantu untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai fenomena-fenomena alamiah dan seputar rancangan yang dibuat oleh manusia.

Karena mampu menyajikan aspek dinamis pada variabel-variabelnya, maka diagram sebab akibat akan menjelaskan bahwa system thinking menyajikan car berpikir yang kuat dan efisien sehingga dapat meningkatkan kecerdasan. Oleh sebab itu, system thinking tidak sekedar teknik, tetapi juga sebuah disiplin  berpikir yang efektif dan efisien.

 

Referensi

[1] Hester, Patrick T., and Kevin MacG. Adams, 2014, Systemic Thinking: Fundamentals for Understanding Problem and Messes. Switzerland: Springer International.

[2} Kristanto, Andri, 2018, Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya, Yogyakarta, Gaya Media.

[3] Prahasta, Eddy, 2018, Systems Thinking & Pemodelan Sistem Dinamis, Bandung, Informatika.

[4] Sarosa, Samiajai, 2017, Metodologi Pengembangan Sistem Informasi, Jakarta, Penerbit Indeks.

[5] Sterman, John D., 2000, Business Dynamics: Systems thinking and modeling for a complex world, McGraw-Hill.

[6] Tasrif, Muhammad dan Ina Juniarti, 2015, Metodologi System Dynamics (Dinamika Sistem) untuk Pemodelan Kebijakan : Suatu Pengantar, Bandung, ITB.

Dani Pradana
Senior Project Manager, Senior Lecturer. Alumni of Universitas Indonesia and Institut Teknologi Bandung
Facebook Comment

Terbaru