Blitzkrieg, Rapid Dominance, and Speed

Ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, yang sekaligus menjadi pemuncak dan pengakhir Perang Dunia (PD) II, sesungguhnya yang terjadi bukanlah ajang pameran kekuatan perang Amerika Serikat atau Sekutu. Yang terjadi adalah keputusasaan dan bisa jadi keengganan berperang. Bertahun-tahun Perang Dunia berlangsung, yaitu dari PD I ke PD II. Perang memang tidak boleh berlangsung terlalu lama. Strategi berperang ala “Blitzkrieg” bisa menjadi alternatif, termasuk dalam perang kompetisi bisnis.

Strategi militer pada dasarnya adalah perencanaan perang. Dari bahasa Yunani “strategos”, strategi dipandang sebagai “the art of the general”. Ketika membahas tentang strategi militer, nama Carl von Clausewitz akan selalu dikenang sebagai “bapak” konsep modern strategi militer. Clausewitz mendefinisikan strategi militer sebagai “the employment of battle to gain the end of the war”.

Strategi berbeda dengan taktik. Keduanya berhubungan dengan dimensi jarak, waktu, dan kekuatan, tetapi strategi mencakup hal yang lebih luas. Strategi merupakan sesuatu yang mengawali sebuah peperangan, sementara taktik mengontrol pelaksanaannya.

Dalam dunia militer, kata blitzkrieg atau lightning war digunakan untuk menjelaskan taktik militer yang digunakan tentara Jerman pada awal PD II, di mana konsentrasi dan koordinasi kekuatan difokuskan untuk memasuki lini pertahanan statis lawan, sehingga gerakan yang cepat dan tak terbatas ini menyebabkan lawan tidak sempat lagi membangun lini pertahanan baru.

Blitzkrieg merupakan taktik peperangan yang cepat dan terbuka. Oleh sebab itu, sangat tergantung dengan kekuatan teknologi baru. Kuncinya adalah bagaimana mengorganisir pasukan sehingga menjadi kekuatan yang dinamis dengan teknik komunikasi dan komando yang luar biasa, sehingga dapat mempertahankan momentum pada saat peperangan terjadi.

Blitzkrieg didasarkan pada ide mengkonsentrasikan seluruh kekuatan perang pada satu titik di dekat musuh. Jika dilakukan sesuai rencana, maka akan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat seperti lampu blitz sehingga tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk menyadari apa yang sedang terjadi.

Meskipun tampaknya mudah dilakukan, pada kenyataannya Blitzkrieg bukan tanpa kelemahan. Sebab utama kegagalan Blitzkrieg pada dasarnya adalah ketika kehilangan ciri utamanya yaitu momentum melakukan pendadakan. Hal demikian bisa terjadi karena strategi tersebut sudah terlalu sering digunakan sehingga pihak lawan sudah bisa “membaca” gelagat strategi yang akan digunakan.

 

Rapid Dominance

Shock and Awe” sangat terkenal ketika Amerika Serikat melakukan serbuan ke Irak pada tahun 2003. Melalui operasi “carpet bombing”, pasukan Amerika Serikat dan Inggris melakukan gempuran melalui udara ke ibu kota Irak. Serupa dengan Blitzkrieg yang hanya berkonsentrasi pada lubang penyerangan tertentu, Shock and Awe dimaksudkan untuk menghasilkan efek psikologi “breaking the enemy’s will to fight” – yang merupakan salah satu bentuk aplikasi dari doktrin perang “Rapid Dominance”.

Rapid Dominance berdasarkan pada serangan langsung pada pusat komando lawan. Tujuannya adalah merusak jalur komunikasi dan komando dengan cara menghancurkan para komandan, bukan dengan menghancurkan jalur perlengkapan komunikasi.

Ada kesamaan antara Blitzkrieg dan Rapid Dominance, terutama pada tempo aktivitas dan pengaruh psikologis yang diinginkan, yaitu menghancurkan keinginan lawan untuk tetap bertahan. Kedua strategi ini bertujuan untuk mengacaukan kekuatan perang musuh sampai ke titik tidak ingin beraksi lagi, dan keduanya sangat bergantung pada sistem komunikasi handal untuk mengkoordinasi berbagai kekuatan dan secara detail menuju pada sasaran taktis yang spesifik.

Aplikasi prinsip Blitzkrieg dan Rapid Dominance di bisnis sering dijumpai pada kompetisi bisnis, baik oleh perusahaan yang diserang maupun yang menyerang. Perusahaan yang menjadi challenger bisa melakukan penyerangan pada market leader dengan berbagai gempuran :

  1. Ke daerah tertentu
  2. Ke jalur distribusi tertentu
  3. Above the line
  4. Trade promotion
  5. Banting harga
  6. Produk khusus

 

Speed

Untuk mewujudkan prinsip Blitzkrieg dan Rapid Dominance dalam persaingan bisnis, maka juga dibutuhkan Speed, yaitu bertindak secara cepat dalam setiap pekerjaan dan eksekusi yang kita lakukan untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan. Untuk mewujudkan speed, maka aktivitas yang kita lakukan haruslah memiliki awal yang jelas, yaitu menggunakan prinsip “berawal dari akhir”. Kemudian aktivitas tersebut harus memiliki arah yang jelas melalui visi dan misi yang telah ditetapkan. Akhirnya, aktivitas tersebut harus menghasilkan aksi yang nyata. Always the best menuntut setiap insan di dalam organisasi memiliki integritas, antusias, dan totalitas. Speed merupakan penerjemahan dari salah satu unsur tersebut, yaitu antusias.

Kecepatan bertindak merupakan faktor kunci untuk memenangkan persaingan, baik kecepatan dalam menjawab peluang bisnis, menghasilkan layanan, dan menciptakan inovasi baru. Dalam kondisi persaingan yang mematikan saat ini, yang cepat akan memakan yang lambat, bukan yang besar memakan yang kecil. Kecepatan merupakan sumber terwujudnya kualitas pekerjaan yang tinggi, pemangkasan biaya, dan ketepatan penyampaian produk dan layanan kepada pelanggan.

 

Kesimpulan

  1. Pada dasarnya Blitzkrieg, Rapid Dominance atau Shock and Awe adalah melakukan serangan terbatas untuk memberi dampak putusnya urat nyali atau merosotnya keberanian bertempur seluruh pasukan lawan. Dan ketika lawan sudah merasa kalah, maka inilah titik awal kekalahan sesungguhnya.
  2. Rencana strategis dianggap sebagai salah satu base concept yang teraplikasi dalam bentuk keputusan strategis yang bertujuan membangun daya tahan perusahaan terhadap berbagai hantaman persaingan dunia usaha.
  3. Kompetisi itu indah. Jangan matikan kompetisi. Biarkan pesaing tetap hidup, bahkan tidak perlu dipermasalahkan jika pesaing terus maju, asalkan kita jauh lebih maju.

 

Referensi

[1] Fahmi, Irham, Manajemen Strategis – Teori dan Aplikasi, Penerbit Alfabeta, Bandung, 2017.

[2] Joewono, Handito Hadi, 7 in 1 Strategy Toward Global Competitiveness, Pustaka Bisnis Indonesia, Jakarta, 2006.

[3] Yahya, Arief, Great Spirit, Grand Strategy – Corporate Philosophy, Leadership Architecture, and Corporate Architecture for Sustainable Growth, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2013.

 

Dani Pradana
Senior Project Manager, Senior Lecturer. Alumni of Universitas Indonesia and Institut Teknologi Bandung
Facebook Comment

Terbaru