Saatnya Jokowi Memilih Kabinet Agile (Gesit dan Lincah) [Bagian 1]

Reading Time: 4 minutes

Baru-baru ini muncul berita di beberapa media agar Presiden Terpilih Joko Widodo mempertimbangkan kabinet gesit dan lincah, usulan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Lembaga ini mendorong agar Presiden Joko Widodo dalam menyusun kabinet kedua pemerintahannya menunjuk sosok yang lincah dan gesit, atau disebut dengan istilah agile.

Apa yang dimaksud dengan agile dan apa hubungan agile yang selama ini identik dengan dunia IT, terutama software development (pengembangan perangkat lunak), bisa dikaitkan dengan konteks yang sama sekali di luar teknologi, yaitu pemerintahan suatu negara.

Tantangan Dunia Saat Ini

Penelitian oleh KPMG dengan judul “Agile or irrelevant”, yang dipublikasikan tahun 2019 sebagai Global CEO Outlook, mengeluarkan hasil yang sangat menarik. Para CEO di dunia mulai fokus untuk membentuk organisasi yang tahan banting (“resilience) menghadapi betapa besarnya dampak dari era disruptif yang semakin dirasakan oleh industri dan bisnis yang sudah mengakar belasan hingga puluhan tahun.

Era disruptif ditandai dengan banyaknya perusahaan berbasis teknologi berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadap oleh masyarakat atau biasa dikenal dengan istilah startup company. Beberapa startup company beserta dampaknya terhadap industri-industri besar bisa dilihat di tabel berikut:

No. Startup Company Industri Valuasi
1. Airbnb Hospitality USD 35 Miliar (Mei 2019)
2. Gojek Transportation USD 9.5 Miliar (April 2019)
3. Bukalapak Retail USD 7 Miliar (Januari 2019)

Bahkan Gojek disebut-sebut sudah menjadi perusahaan decacorn di mana valuasinya menembus angka US$10 miliar atau Rp 140 triliun! Angka yang sangat fantastis dan membuat perusahaan BUMN dengan bisnis besarnya terlihat mungil.

Dan tentunya nama-nama di atas bersama yang lainnya menjadi pemain utama dalam era disruptif karena kehadiran dan bisnis model mereka berhasil membuat industri perhotelan, transportasi, hingga toko-toko di banyak mal harus tutup atau bahkan guling tikar. Ya, mereka tidak mampu bersaing. Dan terlebih lagi, fenomena ini tidak hanya mewarnai dunia bisnis di Indonesia, tapi juga global.

Seperti sudah disinggung, tulisan ini mencoba menyambungkan cerita keberhasilan berbagai startup company dengan konteks agile dan bagaimana korelasinya dengan pemerintahan atau kabinet.

Menurut definisi techtarget.com, “startup culture” adalah lingkungan kerja yang memiliki nilai-nilai problem solving, open communication, dan flat hierarchy. Dari definisi ini hal menarik yang bisa kita simpulkan bahwa startup company tidak selamanya berbasis IT, selama perusahaan mengutamakan nilai-nilai tersebut baik besar, kecil, atau tradisional, mereka memiliki budaya startup.

Mengapa startup company menjadi role model di era disruptif? Karena nila-nilai itulah yang membuat mereka bisa beradaptasi dan mengikuti perubahan yang cepat di zaman sekarang, misalnya perubahan market, perilaku konsumen, tren bisnis, dan sebagainya.

Penelitian KPMG juga menyebut bahwa “acting with agility is the new currency of business” yang diamini oleh hampir 59% dari 1.300 CEO di dunia pada tahun 2018 dan meningkat hingga 67% pada tahun 2019, yang menambahkan pernyataan bahwa apabila mereka tidak bergerak cepat, maka mereka akan bangkrut (“If they are too slow, they will go bankrupt”). Hal menarik tentunya kata kunci “agile” merupakan benang merah dari fenomena era disruptif.

Apakah agile berarti kerja lebih cepat daripada biasanya? Tentu bukan itu yang dimaksud dengan agile. Terjemahan baku dari agile adalah tangkas, gesit, atau lincah. Istilah agile menjadi populer oleh adanya perubahan cara kerja dalam proyek-proyek pengembangan perangkat lunak dengan adanya The Agile Manifesto di tahun 2001 yang didorong atas sulitnya menyelesaikan suatu proyek pengembangan perangkat lunak karena sering terjadinya perubahan-perubahan dari user di akhir proyek, sehingga muncul istilah “software crisis” jauh di tahun 1972.

The Agile Manifesto menyatakan dalam mengembangkan perangkat lunak, tim proyek mengutamakan nilai-nilai di sebelah kiri (tertulis tebal) daripada sebelah kanan:

  1. Individuals and interactions over processes and tools
  2. Working software over comprehensive documentation
  3. Customer collaboration over contract negotiation
  4. Responding to change over following a plan

Keempat nilai di atas sebenarnya menjadi DNA-nya banyak startup company, walau mungkin mereka tidak menyadarinya secara langsung. Startup mengutamakan kerjasama, kolaborasi, dan interaksi yang intensif dari para pendirinya karena tidak melihat hirarki dalam perusahaan.

Hal ini bisa kita lihat langsung betapa santainya seorang Mark Zuckerberg ketika kerja, cukup kaos oblong, celana jins, sepatu kets, dan bahkan meja kerjanya bercampur dengan meja kerja stafnya tanpa ruangan khusus buat sang CEO yang bernilai triliunan rupiah! Tentu kalau kita sering melihat sekarang banyaknya kantor mengubah ruang kerjanya menjadi open space dan tanpa kubikal.

Ini sebenarnya bukan sekadar mengikuti tren, tapi filosofi di baliknya adalah agar komunikasi menjadi cepat, karyawan solid karena saling berinteraksi, cepat dalam pengambilan keputusan, kurangnya birokrasi, saling bekerjasama atau kolaborasi.

Prinsip-prinsip Agile

Walau agile dipopulerkan oleh dunia IT, sebenarnya nilai-nilai di atas bisa diadopsi di lingkungan non-IT. Namun, menerapkan agile tidak sekadar mengubah ruangan kerja menjadi open space, tapi membutuhkan lebih dari itu.

Karena agile memiliki prinsip-prinsip dalam menjalankannya, yang uniknya merupakan turunan dari Lean Manufacturing atau dikenal dari buku populer The Toyota Way.  Sehingga, mengubah ruangan kerja tanpa mengubah manusianya akan sama saja bohong.

Prinsip-prinsip dari Lean Manufacturing antara lain adalah membangun kepercayaan (trust) di lingkungan kerja yang hanya bisa terjadi apabila semua orang di dalamnya, baik karyawan maupun manajemen, saling menghormati atau respek. Menghadapi era disruptif yang memiliki perubahan sangat cepat dibutuhkan lingkungan kerja yang mengutamakan kepercayaan dan respek sehingga prinsip berikutnya bisa terjadi, yaitu fail-fast.

Fail-fast merupakan kunci dari keberhasilan banyak startup company yang percaya bahwa hasil produk mereka tidak mungkin berhasil apabila tidak segera diluncurkan ke pasar untuk secepatnya mendapatkan feedback dari pengguna.

Jadi, prinsipnya adalah daripada lama-lama membuat produk sesempurna mungkin, startup company mengeluarkan produk yang memiliki fitur minimum tapi bisa digunakan langsung oleh pengguna. Dari feedback itulah, startup company melanjutkan pengembangannya, sehingga pengembangannya selalu sejalan dengan kebutuhan dari pengguna atau pasar, dan fiturnya yang sebelumnya minimum bisa menjadi lebih kaya dan powerful.

Hal ini bertolak belakang dengan prinsip kerja yang membuat produk sesempurna mungkin tapi makan waktu lebih lama, dan ternyata hasilnya pun belum sesuai ekspektasi dari pengguna atau pasar. Tujuan fail-fast ini pada dasarnya adalah untuk meminimalisasi waktu yang terbuang (waste).

Kelanjutan dari fail-fast adalah prinsip yang mendorong tim agar selalu beradaptasi terhadap keadaan, atau disebut dengan inspect-and-adapt. Apabila tim sudah memutuskan akan menjalankan suatu pekerjaan atau inisiatif, maka pemimpin dari tim tersebut tidak hanya terima beres, namun harus melakukan pengecekan dan tidak hanya menerima laporan dari timnya.

Dengan demikian, prinsip fail-fast berjalan dan apabila ada kesalahan, maka pemimpin dan tim memutuskan tindakan selanjutnya apa, dan di sinilah prinsip inspect-and-adapt dilakukan tanpa saling menyalahi atau mencari kambing hitam karena tim bekerja atas dasar unsur saling menghormati.

Oleh karena itu, prinsip fail-fast dan inspect-and-adapt adalah membangun suatu lingkungan kerja yang mendorong inovasi dan percaya bahwa kegagalan adalah hal yang wajar, namun kegagalan tersebut harus segera dihadapi daripada berlama-lama tapi tetap gagal. Lingkungan kerja seperti inilah disebut dengan psychological safe.

High-Performance Team

Penelitian selama dua tahun pada high-performance team di perusahaan raksasa Google (five-keys-to-a-successful-google-team/) menyatakan bahwa semua tim dengan performa terbaik memiliki satu kesamaan, yaitu psychological safety.

Keyakinan bahwa tim tidak akan dihukum apabila melakukan kesalahan, sehingga mendorong tim menjadi lebih berani mengambil risiko, berinovasi, kreatif, dan berani berbicara apabila ada kesalahan. Tapi, hal-hal tersebut baru bisa muncul apabila budaya saling menghormati dan respek antar tim sudah tertanam, karena menjadi kunci dari suatu tim yang agile.

Hal ini jugalah yang menjadi DNA-nya startup company yang memang didominasi oleh generasi X atau milenial yang dalam pekerjaannya cenderung tidak mengenal hirarki. Maka, menjadi tantangan berat sekali untuk mengubah budaya kerja hirarki yang sangat umum di lembaga-lembaga pemerintahan, BUMN, dan birokrasi (bersambung).

Sumber: https://geotimes.id/komentar/saatnya-jokowi-memilih-kabinet-agile-gesit-dan-lincah-bagian-1/

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Facebook Comment

Terbaru

Rekomendasi